Jumat, 19 April 2019

kebenaran dalam fiksi



salah satu langkah dalam menulis fiksi adalah riset. tujuannya biar tulisan fiksi bagaimanapun fiksinya jadi realistis. agar bisa diterima pembaca. agar pembaca dapat merasakan ceritanya. agar detail dan data dalam setting, karakter atau konflik bisa lebih nyata.

untuk itu diperlukan riset. ada yang riset lokasi, budaya, literatur, sejarah dan masih banyak lagi. bahkan dialek, aksen atau cara bicara seseorang masih perlu diteliti agar lebih realistis. contohnya orang india, orang amerika latin, orang rusia kalau berbicara bahasa inggris kedengarannya akan ada bedanya.itulah aksen.

untuk itu aku juga harus melakukan riset. aku jadi berpikir kalau ceritaku realistis maka harus sesuai dengan hukum alam.

aku harus melakukan banyak riset. setelah menemukan banyak data aku jadi menemukan batasan. ceritaku tidak boleh atau tidak bisa melebihi fakta. jadi ceritaku harus bersetting dan menggunakan orang di dunia nyata. tapi kalau benar-benar sesuai fakta itu namanya bukan cerita fiksi tapi berita fakta. contohnya laporan perjalanan.

kalau membuat cerita yang mendekati fakta misalnya James Bond, mission impossible, hitman. film-film spionase itu berlatar dan menggunakan orang-orang yang nyata. tokoh-tokohnya bisa fiksi tapi organisasinya bisa jadi fakta. misalnya M16, CIA, FBI, NSA. musuhnya ada yaitu pedagang senjata, bandar narkoba, mafia, preman-preman atau intel negara lain. senjatanya benar-benar ada. pertarungannya bisa dilakukan. tinggal kemampuannya yang mungkin tidak selalu beruntung. contohnya John Wick. kuat sekali dia. dia juga dikelilingi keberuntungan. walau banyak yang yang berusaha membunuhnya tembakan mereka tidak kena. John Wick itu ditabrak nggak apa-apa, dipukul nggak apa-apa, ditembak masih baik-baik saja. health-nya kayaknya 9999 deh.

aku jadi makin kaku dan terkungkung oleh batasku sendiri. tolong, deh. ada nggak yang bisa bantu aku?

akibat lain dari keharusan riset dan sesuai dengan fakta ini aku jadi tidak bisa menerima cerita fantasi seperti penyihir, naga, superhero, mesin waktu, tukar badan dsb. tapi kalau begitu terus avenger gimana ya? harry potter, lord of the ring, alice in wonderland?

mereka itu cerita fantasi tapi diterima oleh masyarakat. buktinya laris. mereka tidak sesuai dengan hukum alam, logika dan kenyataan. captain america sendiri. jika faktanya ada maka pasti dia sudah diburu CIA atau FBI untuk dibedah lalu dicari formula rahasia awet muda dan kekuatan supernya.

faktanya di dalam film dia bersikap biasa saja. semua orang biasa saja. semua orang menerimanya. pemerintah AS dan dunia menerimanya. padahal kenyataannya belum tentu seperti itu. kalau begitu reaksi seluruh dunia diabaikan atau diatur oleh si pembuat cerita agar sejalan dengan jalan cerita yang sudah dibuat oleh si pembuat cerita. kita sebut saja narator. kalau begitu apakah sebenarnya tokoh cerita dan semua karakternya sebenarnya hanyalah boneka narator? apakah mereka semua tidak memiliki kehendak bebas? walau kelihatannya mereka bertindak bebas apakah semua itu ilusi?

lalu bagaimana dengan manusia itu sendiri? jika takdir itu memang ada apakah manusia sebenarnya terpaksa dalam berbuat lalu kehendak bebasnya hanyalah ilusi?

semua itu di luar jangkauan manusia.

film-film dan cerita itu kenyataannya laris. jadi diterima penonton. jadi penonton bisa menerima isi dalam cerita fiksi itu walau tidak sesuai kenyataan. ya, misalnya naga, penyihir, elf, orc, undead, hingga pahlawan berkekuatan super atau teknologi super.

pertanyaanku: bolehkah kita menulis cerita fiksi yang tidak sesuai dengan kenyataan?

aku mencari data di internet dengan kata kunci "kebenaran dalam fiksi". hasilnya ditemukan dari wikipedia. wikipedia berkata:

Fiksi adalah cerita atau latar yang berasal dari imajinasi—dengan kata lain, tidak secara ketat berdasarkan sejarah atau fakta. Fiksi bisa diekspresikan dalam beragam format, termasuk tulisan, pertunjukan langsung, film, acara televisi, animasi, permainan video, dan permainan peran. Walaupun istilah fiksi ini awalnya lebih sering digunakan untuk bentuk sastra naratif, termasuk novel, novella, cerita pendek, dan sandiwara. Fiksi biasanya digunakan dalam arti paling sempit untuk segala "narasi sastra".

Karya fiksi merupakan hasil dari imajinasi kreatif, jadi kecocokannya dengan dunia nyata biasanya diasumsikan oleh audiensnya. Kebenaran dalam karya fiksi tidak harus sejalan dengan kebenaran yang berlaku di dunia nyata, misalnya kebenaran dari segi hukum, moral, agama, logika, dan sebagainya. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata bisa saja terjadi di dunia fiksi. Dengan demikian, fiksi umumnya tidak diharapkan untuk hanya menampilkan tokoh yang merupakan orang nyata atau deskripsi yang akurat secara faktual. Alih-alih, konteks fiksi, yang tidak persis berpatokan pada dunia nyata, secara umum dipahami sebagai sesuatu yang lebih terbuka terhadap interpretasi. Tokoh dan peristiwa di dalam dunia fiksi mungkin berlatar di dalam konteks mereka sendiri yang sepenuhnya terpisah dari dunia nyata: suatu semesta fiksi yang mandiri. Fiksi merupakan lawan kata untuk nonfiksi, yang tokoh-tokohnya memegang tanggung jawab untuk hanya menampilkan fakta sejarah dan faktual; akan tetapi, perbedaan antara fiksi dan nonfiksi bisa menjadi tidak jelas, misalnya dalam sastra pascamodern.

jadi dunia fiksi ternyata berbeda dengan dunia nyata. jadi apa yang tidak ada di sini boleh ada di sana. jadi apa saja boleh. terus semua berjalan sekehendak narator karena narator yang menciptakan. narator pula yang menghendaki. semua berjalan mengikuti kehendak narator. toh semua keberadaan dunia fiksi dibangun berdasarkan khayalan narator, yang terpisah dari dunia nyata tempat narator, pembaca dan semua orang hidup.

kemudian untuk apa kita melakukan riset padahal kita menulis cerita fiksi? cerita fiksi kan terjadi di dunia fiksi, dunia lain yang terpisah dari kenyataan, yang dibangun di atas dasar khayalan narator? kenapa nggak mengarang saja semuanya? semua diisi khayalan saja gimana?

*aku jadi harus riset ke google untuk cari jawabannya.*

 

jawaban dari : https://aditiayudis.wordpress.com/2013/09/25/tentang-riset-dalam-menulis-fiksi/

Riset menghindarkan kita dari fakta-fakta yang salah, kurang tepat, atau kurang update, sehingga kita bisa menyajikan tulisan yang terasa nyata, natural, serta bisa dimengerti pembaca.

dari https://medium.com/@benzbara/memangnya-nulis-fiksi-perlu-riset-5e7622403fdb




" Cerita yang baik adalah cerita yang meyakinkan pembacanya. Salah satu tugas utama penulis adalah membuat pembaca percaya bahwa ia sungguh-sungguh tahu apa yang sedang dia bicarakan dalam tulisannya. Menulis karya fiksi berdasarkan pengalaman sendiri, tidak membuat kita otomatis mengetahui segala hal yang dibutuhkan untuk menulis cerita. Riset adalah hal yang penting karena setiap cerita memiliki kebutuhannya sendiri, dan kita tidak selalu punya pengetahuan yang dibutuhkan oleh cerita yang kita tulis.


Contoh. Jika saya sedang menulis novel romance yang tokohnya seorang barista, sementara saya tidak pernah bekerja sebagai barista, bagaimana cara saya menuliskannya? Riset. Jika saya barista tapi cerita yang saya tulis butuh menghadirkan tokoh roaster, juru sangrai, atau bahkan pemilik coffee shop, sementara saya bukan keduanya, bagaimana cara saya menuliskan mereka?














Fiksi adalah cerita rekaan, benar. Ketika menulis fiksi, kita mengarang, mengarang-ngarang. Tapi bukan berarti di dalam fiksi tidak terdapat fakta. Karya fiksi yang kuat adalah yang didukung dengan riset mendalam. Dan kita bahkan tidak sedang bicara tentang novel sejarah. Novel genre apapun butuh dukungan riset untuk membuatnya tampil meyakinkan. Pop romance tentang tokoh yang pekerjaannya bankir, misalnya, bagaimana caranya kamu menulis tokoh bankir secara meyakinkan jika pertama, kamu bukan bankir, dan kedua, kamu tak melakukan riset tentang kehidupan seorang bankir.


Jadi menulis cerpen dan novel berdasarkan pengalaman saja tidak cukup. Tidak pernah cukup. Menulis novel ringan dengan tema seputar percintaan yang itu-itu saja pun butuh riset. Ketika menulis Elegi Rinaldo saya memakai tokoh utama seorang fotografer makanan, foodie. Saya bukan foodie maka saya perlu mencari tahu apa dan bagaimana itu foodie. Saya meminta waktu seorang teman foodie untuk wawancara sekaligus mengikutinya bekerja seharian hingga bertemu dengan klien-kliennya.


Riset tidak hanya berkaitan dengan data dan informasi mengenai suatu profesi (tokoh), tempat (latar), atau kronologi (peristiwa) tapi juga hal-hal trivial, yang kelihatannya sepele dan bisa cukup dibayangkan. Ketika sedang menulis adegan pertemuan dua orang cewek yang sama-sama menyukai satu cowok di novel Kata Hati, saya perlu bertanya ke beberapa teman perempuan tentang apa yang akan mereka bicarakan jika berada dalam situasi tersebut. Saya butuh bertanya karena saya belum pernah ada di situasi itu, terlebih saya bukan perempuan.














Menulis fiksi tidak hanya tentang mengarang. Kita menulis fiksi karena ingin mengalami apa yang belum pernah kita alami. Sekaligus membuat pembaca membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang lain. Pengalaman adalah bahan mentah. Untuk membuat cerita yang meyakinkan, pengalaman perlu didukung pengetahuan, yang perlu dikumpulkan melalui sebuah kegiatan mengasyikkan bernama riset.


Tapi juga tidak semua yang berhasil dikumpulkan lewat riset dapat, dan harus, masuk ke fiksi yang sedang kita tulis. Cerita yang tumpah-ruah oleh pengetahuan, jika tidak dibalut dengan drama yang pas, akan jadi bacaan yang melelahkan. Bahkan kita akan merasa penulisnya keminter. Jangan lupa, kekuatan utama fiksi adalah cerita. Drama. Jika pembaca butuh data yang lengkap tentang sesuatu hal mereka bisa membaca jurnal ilmiah dan ensiklopedia, bukan novel.


Saat ini riset sudah lebih mudah dilakukan. Ada Google, Wikipedia, Internet. Tapi meramban di dunia maya saja kadang-kadang tidak cukup. Kita tetap butuh membaca buku (cetak) tentang topik yang kita tulis, menonton atau melakukan wawancara, pengamatan. Apapun yang dibutuhkan oleh cerita. Dengan riset, penulis mengenali apa yang ia tulis, dan pembaca dapat menikmati cerita yang lebih dari sekadar bualan kosong."


aku jadi copas posting orang lain. jadi merasa bersalah nih. sorry deh. soalnya aku nggak punya banyak waktu buat baca semua lalu menulis ulang dengan caraku sendiri.

kesimpulannya soal kebenaran dalam fiksi. pusat dari cerita fiksi adalah fantasi kita. kita bebas membuat tokoh, peristiwa atau masalah apapun di tempat apapun lalu menghadapi musuh atau masalah apapun dengan cara apapun walau teknologinya belum ada. lalu riset tujuannya mencari data untuk menyusun fakta di sekitar tokoh fiksi. jadi fakta dalam fiksi tempatnya di tepi atau pinggir, yaitu detail karakter orang, psikologi, setting tempat, waktu, suasana, teknologi dan sebagainya. tujuannya agar cerita menjadi realistis dan diterima oleh pembaca. biar kesannya kita tahu apa yang kita ceritakan, bukan asal cerita. nggak bener kan kalau kita cerita tentang barista tapi kita tidak tahu apa-apa tentang kafe, kopi dan segala hal di dalamnya?

itu saja dari aku. salam.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar