Senin, 10 Februari 2020

biaya nikah

 seorang senior - mantan teman groupku, pernah bilang supaya aku mengumpulkan uang dulu buat biaya nikah. kemarin aku tanya dia mau uang berapa buat biaya nikah. dia jawab 5 juta. dia bilang dia bisa jadi EO (event organizer) sama teman-temannya. dia bisa mengakomodir mereka semua supaya acara pernikahan jadi meriah. ada yang mengabadikan dalam bentuk foto. ada yang membuatkan makanan. Rp 25.000 per orang. ada souvenir juga.


aku shock mendengarnya. kalau ditambah mahar Rp 700.000 plus seperangkat alat sholat dan sewa kendaraan, totalnya bisa mencapai Rp 6.000.000,- . aku bisanya menabung Rp 300.000,- per bulan. kalau biayanya segitu aku baru bisa mengumpulkannya dalam waktu 20 bulan. hampir 2 tahun. kalau mulai menabung akhir september 2020, maka baru bisa terkumpul uangnya akhir september 2022, padahal targetku nikah september 2021. itu terlalu lama.

aku mencoba menambah biaya tabungan. misalkan sebulan Rp 400.000,- maka setahun bisa Rp 4.800.000,-. tapi dalam setahun aku perlu 3 x servis sepeda motor sesuai rencana dan perlu uang untuk membayar pajak motor tahunan. biayanya Rp 50.000, - x 3 + 300.000,- = 450.000,- kalau menghemat semua pengeluaran, yang terkumpul Rp 4.250.000,-. itu 1 tahun. perlu tambah 3 bulan lagi.

apa aku nggak usah pakai jasanya aja ya? Tapi kalau begitu aku harus mencari caon istri sendiri. sedangkan kalau aku mencari sendiri, aku nggak bisa. aku nggak punya teman atau kenalan wanita. aku juga nggak tahu bagaimana berkenalan dengan wanita. aku nggak bisa mencari tahu karakter mereka supaya nggak salah pilih. belum tentu juga mereka mau langsung nikah. setahuku kebanyakan wanita itu maunya pacaran dulu, lalu mereka memandang fisik dan harta baru mau sedangkan aku nggak punya keduanya.

itulah kenapa aku berencana mau dicarikan sama temanku itu. dia itu semacam makelar pernikahan. dia punya banyak kenalan. dia mengelola semacam komunitas anak muda. kalau mau cari istri bisa minta dia. tapi saat dikasih tahu biayanya segitu, aku keberatan.

apa aku minta dicarikan bosku atau temanku saja?

bosku mungkin saja bisa, tapi aku nggak ingin melibatkannya dalam kehidupan pribadiku. ini urusanku. kehidupan pribadiku. aku nggak ingin melibatkannya. kalau melibatkannya, nanti dia akan merasa berjasa dalam hidupku lalu akan memasuki kehidupan pribadiku, merusakan rencana hidupku, mengatur-atur hidupku agar sesuai keinginannya. aku nggak bisa menerima itu. aku ingin hubungan kami sebatas pekerjaan itu saja. nggak kurang dan nggak lebih

ada juga temanku yang menawarkan bantuan. dia punya kenalan ustadz. ustadz-nya bisa mencarikan calon istri. tapi kalau mengikutinya, nanti aku jadi harus ikut pengajian dan kelompok mereka. aku kurang suka kelompok itu karena mereka berhubungan dengan partai politik tertentu dan politik praktis. aku tidak ingin terlibat politik praktis semacam itu.

hidupku jadi gelap. apa aku akan menunggu dua tahun? atau nggak usah nikah saja? kalau nggak menikah, untuk apa aku melakukan semua ini? semua usaha ini? bekerja, bertahan hidup, melakukan banyak rencana, mengorbankan banyak hal dalam rencanaku?

aku jadi tak punya alasan untuk bertahan hidup. tak ada masa depan yang cerah menungguku. yang ada awan kelabu yang suram. kalau tidak ada artinya mungkin sebaiknya aku akhiri saja.

sementara ini aku harus bekerja dan bertahan hidup untuk melunasi hutang-hutangku. kira-kira empat bulan lagi lunas. setelah itu baru mungkin aku akan bisa melakukannya. agak jauh dari tempat tinggalku ada sungai. sungainya besar. alirannya deras. aku tidak bisa berenang. jadi aku akan bisa menceburkan diriku di sana. lalu aku akan bisa meninggalkan dunia kelabu tanpa harapan ini menuju ketiadaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar