Minggu, 16 Juni 2019

nikah tanpa modal



beberapa hari yang lalu aku sama temanku ke rumah bosku. temanku mau silaturahmi idul fitri sedangkan bosku mau membicarakan masalah pekerjaan. Beliau mau menawarkan pekerjaan kepada temanku. aku cuma jadi pengantar jemput temanku saja.

kami ditanyai umur kami. 29 tahun. lalu dari gelagat dan status kelihatan kalau kami bimbang. sudah umur 29 kok belum menikah. kalau ditanya "kok belum menikah?" bakalan bingung, panik, baper dsb.

bosku lalu menawarkan calon istri. bosku punya kenalan bapak-bapak. Bapak-bapak itu mengelola sebuah rumah sakit. Bapak-bapak itu punya banyak karyawan perempuan sebagai perawat di rumah sakitnya. bapak-bapak itu punya banyak kenalan lagi, plus beliau bisa mengenali kepribadian perempuan, maksudnya beliau bisa tahu seorang perempuan itu siap berumah tangga atau tidak.

kata bosku, yang penting perempuan itu siap berumah tangga atau tidak. soal cantik, itu gak begitu penting. lebih baik menikah waktu masih babat, waktu masih di bawah, waktu masih merintis usaha, sebab nanti akan tahu susah senang dalam berusaha, saling mendukung, punya dua kaki. wanita yang seperti itu akan menerima kita apa adanya, bukan karena ada apanya.

kalau kita sudah mapan, banyak wanita yang akan mau sama kita, tapi itu karena harta kita. kalau kita sudah tidak punya harta, mereka akan meninggalkan kita. kalau kita menikah setelah menunggu mapan, iya kalau kesampaian, kalau tidak?

"jadi gimana? mau?" tanya bosku.

temanku langsung mengiyakan. dia mengajakku menemui Bapak-bapak itu.

ganti aku yang bingung. aku belum siap untuk menikah, setidaknya sekarang. aku sudah menjelaskan kepada bosku dulu.

bosku dulu sudah pernah mencermahi aku.

katanya," gak usah khawatir! rizki sudah dijamin. apa kamu nggak percaya sama Allah? kalau kamu nggak percaya, apa menurutmu Allah nggak sanggup menghidupi kamu sama keluargamu? menghidupi milyaran umat manusia sejak zaman nabi Adam sampai manusia terakhir aja bisa, masak cuma kamu sama keluargamu aja nggak bisa?"

aku udah pernah menjalani sesi seperti itu sebelumnya. sama guru-guruku, saudara-saudaraku, keluargaku, teman-temanku. mereka semua mengatakan seperti itu, tapi itu tidak berhasil mengubahku, bahkan semakin menjadikan aku kukuh pada pendirianku.

masalahnya bukan itu. masalahnya: aku yakin walaupun rizki sudah ditentukan aku bakalan tetap harus berusaha. aku masih belum punya jalan untuk berusaha untuk itu. usahaku hanya cukup untuk hidupku sendiri, belum untuk orang lain.

"itu urusan nanti. nikah dulu baru cari usaha bareng. sekarang belum ketemu jalannya, tapi nanti pasti akan ada jalan. rizki takkan ke mana."

oke. sekarang, menuju nikahnya.

aku tak punya uang serupiah pun untuk nikah. dan aku masih punya hutang. aku punya kredit motor belum lunas, belum punya tabungan dll. lunasnya masih lama apalagi buat tabungannya.

"nikah aja sekarang. gak usah mikirin modal. nikah di KUA gratis. yang penting ijab kabul. soal mahar, bisa aja gratis. soal walimah gak harus diadakan." kata bosku bersikeras.

yang kayak gitu gak mustahil tapi hampir mustahil. bisa jadi 1 dari 1000 bahkan kurang. bisa jadi 1 dari 1.000.000 baru ketemu. bisa jadi bukan kesempatan pertama. jadi akan gagal beberapa kali sampai banyak baru ketemu yang kayak gitu.

jawabanku tetap sama TIDAK!

setidaknya begini alasanku: aku sekarang lagi punya hutang. aku tidak mau menikah dalam keadaan punya hutang. aku tidak mau membebani istriku. kalau menikah terus punya hutang, nanti penghasilanku akan terpotong untuk istriku, jadi aku tidak bisa menafkahi istriku sepenuh penghasilanku 100%.  hutang itu buruk. nikah itu baik. aku tidak ingin memulai yang baik dengan cara yang buruk. setidaknya aku harus melunasi hutangku, mencapai titik netral, menabung untuk punya bekal baru menikah.

aku tidak ingin istriku menanggung penderitaan yang sama denganku. aku ingin dia bahagia bersamaku, bukan menderita. kalau menderita, biar aku saja, kalau dia jangan. setidaknya begitu. jadi biarkan aku berusaha dulu. setidaknya inilah bukti kekuatanku, bahwa aku layak untuk diterima lamarannya, seseorang yang layak dicintai. kalau tidak layak, aku tidak punya alasan untuk diterima proposalnya.

kemudian soal bekal. aku yakin aku harus punya bekal menikah. ada orang yang berani nikah tanpa modal alias modal nekat. aku tidak seperti itu. aku adalah tipe orang yang harus mempersiapkan segala sesuatu sebelum melakukan segalanya. berpikir sebelum bertindak, berencana sebelum berbuat itulah aku. aku tidak percaya pada spontanitas dan tindakan emosional yang membabi buta. itu adalah sikap tidak dewasa. sama seperti Naruto. karena itu aku kurang suka dia.

memang peluang nikah gratis itu tidak nol, tapi secara realitas sangat jarang. hitung saja berapa biaya nikah di Kalimantan, Sulawesi, Jakarta dll. untuk di Jawa mungkin saja ada. ada beberapa yang menikah bermahar surat Ar-rahman. tapi ada walimah dan walimahnya itu besar.

nikah gratis itu tentu saja yang paling menyenangkan buat lelaki. lalu ada dalilnya," sebaik-baik wanita adalah yang paling murah maharnya". ya, itu memang yang terbaik.

tapi kita harus memperhatikan: berharap untuk yang terbaik, bersiap untuk yang terburuk.

itulah maksudku. jangan hanya berharap yang baik. nanti akan jadi tidak siap menghadapi kenyataan, terutama saat kenyataan tidak sesuai harapan. bukankah banyak kita alami sendiri, kenyataan tidak seindah harapan? sejak kecil kita mengenal anak nakal, yang artinya tidak semua teman itu baik. tidak semua permintaan kita dikabulkan orang tua, tidak selamanya nilai kita bagus dst. itulah pelajaran kenyataan hidup. bahwa kenyataan tidak selalu seindah harapan.  saat kita menerimanya, saat itulah kita mulai beranjak dewasa.

saat aku berpikir begitu, beberapa oran jadi bilang aku suka su'udzan. su'u dzan sama Allah, sama dunia, sama orang lain. dari mana mereka menyimpulkan begitu? padahal aku cuma bersikap hati-hati, berpikiran terbuka, memperhatikan semua kemungkinan, berpikir menyeluruh, tidak parsial.

saat banyak orang melawanku, aku hanya bisa bersikap tenang. diam, jangan lawan mereka. kita memang tidak akan bisa memuaskan semua orang. memang bukan tugas kita untuk menyenangkan semua orang. tujuan hidup kita bukan untuk mencari persetujuan semua orang. memuaskan semua orang itu tugas maereka masing-masing. tugasku memenuhi kewajiban dan tugas hidupku sendiri, mengejar tujuanku sendiri.

kalau dibilang egois, keras kepala itu relatif. itu masalah lain. aku tidak ingin memperpanjang posting ini. pada akhirnya kesimpulannya: aku tidak mau menikah sebelum hutangku semua lunas dan mempunyai bekal menikah. sampai kapan pun waktunya. aku sekarang hanya bisa berusaha bekerja untuk membayar dan mengumpulkan bekalnya.

 

4 komentar:

  1. Haha aku 35 th dan masih lajang dan sudah kebal dengan semua itu. Anda tidak sendirian.

    BalasHapus
  2. syukurlah. masih ada temannya. yok having fun bareng!

    BalasHapus
  3. Masyarakat kita dan kita sendiri mungkin belum paham bahwa yang terpenting itu bukan prosesi dan seremoni dan resepsi itu. Ya memang itu juga penting tapi bagaimana menjalani isi pernikahan itu, tampaknya kok masyarakat tidak mempersiapkan dengan baik. Saya kemarin ketemu dengan seorang teman yang memiliki kenalan dokter yang memiliki perhatian pada persiapan pra pernikahan. Calon pasangan idealnya paham soal kondisi kesehatan masing-masing, misalnya mungkin ada yang memiliki kondisi genetik tertentu sehingga keturunannya nanti bisa berisiko mengidap penyakit tertentu. Semua itu belum disadari pentingnya oleh masyarakat indonesia. Jadi begitu bayi mereka terlahir kurang sempurna atau mengidap penyakit tertentu, mereka kaget dan terguncang. Kalau sudah memeriksakan diri sebelum pernikahan, risiko ini bisa dikelola sehingga si bayi nantinya terlahir dengan kondisi yang lebih baik daripada jika hanya lahir tanpa kesadaran akan risiko apapun. Tapi yah, masyarakat kita sekarang masih lebih tertarik pada kemegahan tempat resepsi dan enaknya makanan yang disajikan atau mahalnya mahar yang dipamerkan. Masih perlu edukasi lebih lanjut untuk mengubah persepsi dan pola pikir memang.

    BalasHapus
  4. Ternyata saya memang tidak sendirian! Hahaha :lol:

    Saya pun mengalami kegelisahan yang sama dan anehnya "nasihat-nasihat" seperti itu sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Siap atau tidaknya diri tentu kita sendiri yang lebih tahu, tetapi kebanyakan orang malah bersikap sok tahu dan memberi nasihat-nasihat yang sangat membuat hati tersinggung tanpa ia sadari.

    BalasHapus