Jumat, 04 September 2020

rhyme in peace



 Advent, Valen, Dio, Nathan dan Tius duduk bersebelahan dalam kursi putih. Kelima pemuda itu tengah menghadiri sebuah pemakaman. Foto seorang pemuda dipajang di depan mereka. Seorang pendeta menyampaikan khotbah obituari.


Yang meninggal adalah seorang laki-laki bernama Rio. Rio adalah seorang teman dari lima pemuda itu. Mereka selalu bersama. Kemana-mana selalu berenam, bermain bersama, bepergian bersama, makan bersama, minum bersama, menyanyi di karaoke bersama hingga mencari hiburan malam.

Kejadian semalam menjadi peristiwa yang tak terlupakan. Siapa sangka, saat minum-minum bersama berubah menjadi perpisahan seketika? Kelima cowok itu sedang minum di Night Club seperti biasa. Tertawa sambil mengacungkan Champagne berbusa warna kuning. Seperti hari-hari sebelumnya kejadian yang biasa hari demi hari sampai mabuk lalu pulang ke rumah masing-masing. Sampai tiba-tiba sebuah mobil sedan berwarna merah menabrak Rio yang paling belakang waktu menyeberang jalan.

“Rio……!” panggil kelima cowok itu.

Rio dilarikan ke Rumah Sakit. Tapi nyawanya sudah tak terselamatkan. Dokter pun menggelengkan kepala.

Hingga disinilah semua itu. Duduk bersebelahan menghadapi peti mati sahabat mereka yang akan dikubur ke dalam bumi.

“Rio! Berani sekali kau meninggalkan kami seperti ini! Mana janjimu selama ini? Dulu kau pernah bilang kalau kita akan sukses bersama kan?” teriak Advent yang duduk di tengah.

Valen tak menyahut.

“Benar, Rio! Kamu dulu pernah bilang kalau kita akan mecapai Jayawijaya kan? Bromo sudah gapai. Kerinci kita lewati. Tapi masih banyak lagi yang belum kan, Rio!” tambah Nathan.

“Sudah, sudah.” Valen berusaha menenangkan.

“Apa-apaan maksudmu, Valen? Apa kau rela melepaskan sahabatmu pergi begitu saja? Apa kau sudah tak sayang lagi pada Rio?” protes Nathan.

“Aku juga menyayangi Rio, tapi sudah tak ada lagi yang bisa kita lakukan. Berhentilah bersikap seperti anak kecil! Bersikaplah seperti orang dewasa! Kalian sudah diatas dua puluh kan!” seru Valen.

Mereka semua menangis. Begitu pun orang-orang di sekitar mereka.

Selesai pendeta berkhotbah, beberapa orang mengangkat peti mati kemudian membawa ke pemakaman umum di puncak bukit. Mereka mendaki ke puncak bukit di mana pihak keluarga menghendaki disana supaya makamnya berada di tempat tertinggi, tempat terindah di pemakaman tersebut. Orang-orang mengikuti hingga ke puncak. Termasuk lima sahabat yang tersisa.

Dia menatap langit bukit pemandangan langitnya berwarna abu-abu gelap mendung dengan beberapa garis putih. Sepertinya akan hujan, tapi semoga tidak. Mereka terus mendaki hingga puncak bukit.

Lubang kubur telah digali, nisan telah terukir dengan nama Rio Sukmana. Dibawahnya tanggal lahir dan tanggal kematiannya.

Peti mati Rio diturunkan dan dimasukkan dalam kuburnya. Keluarganya masih menangisinya, mereka menaburkan tanah ke peti mati  itu. Kelima sahabat pun menaburkan tanah-tanah.

Setalah itu para Penggali Kubur menguburkan peti dengan tanah galian kembali. Orang-orang perlahan-lahan mengundurkan diri, pulang ke rumah masing-masing. Termasuk keluarga Rio.

Tinggal lima sahabat. Tadinya enam sekarang jadi lima. Mereka merenung lama.

“Jadi sekarang apa yang akan kita lakukan?” tanya Dio.

“Tentu saja, kita akan melanjutkan perjuangan Rio.” Jawab Nathan.

“Rio, terima kasih atas jasa-jasa dan kebaikanmu selama ini. Kami tidak akan melupakanmu. Kami akan lanjutkan untuk mewujudkan cita-citamu. Cita – cita kami dan cita-cita kita semua.” Kata Valen.

“Sekarang perjalananmu sudah usai. Saatnya kau beristirahat. Semoga kau bisa tidur dengan tenang di alam sana.” Lanjut Valen.

Kelimanya menatap langit membayangkan Rio tersenyum di atas sana. Bersamaan itu mendung mulai pudar. Cahaya putih tersibak dari langit membentuk garis-garis putih lurus menembus ke bumi.

Kelima sahabat tersenyum menatap ke bawah bukit tempat kota dan lembah terlihat masa depan dimulai kembali

Tidak ada komentar:

Posting Komentar