Rabu, 25 Maret 2020

tujuan hidupku



ada seorang gadis. dia fiktif/ imajiner. dia berambut pendek sebahu berombak warna biru kehijauan. dia memakai kaos putih bertuliskan NASA. gadis itu datang kepadaku. dia bertanya kepadaku," kenapa kamu hidup?"


"apa maksudmu?" tanyaku.

"kenapa kamu ada?"

"aku ada karena aku diciptakan. Terserah Tuhan menciptakan aku atau tidak. Itu bukan urusanku. Aku ada melalui dilahirkan dari kedua orang tuaku. mereka yang merawatku dari kecil hingga dewasa. lalu aku berusaha hidup mandiri. selama ini Tuhan yang selalu merawatku, menjagaku, memberiku keselamatan, umur panjang, rizki dan segalanya." jawabku.

"setelah itu apa tujuan hidupmu?" tanyanya

"secara biologis, tujuanku adalah untuk bertahan hidup. secara psikologis tujuanku adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupku dan memenuhi keinginanku. semuanya demi mencapai kebahagiaan, ketenangan dan kedamaian. secara normatif, tujuan hidupku adalah untuk beribadah kepada Tuhan." jawabku.

"apakah kamu yakin?"

"apa maksudmu?"

"kamu kan bukan orang yang dekat dengan Tuhan? Kamu bahkan tidak sepenuhnya percaya kepada Tuhan? kamu bukan orang baik. kamu masih punya banyak dosa dan terus melakukannya. kamu tidak mau bertaubat dan kembali kepada-Nya." sanggahnya.

aku tak menjawab.

"oke. singkatnya begini. setiap hari ada orang yang mati. kenapa kamu tidak mati saja? aku tidak bermaksud menyuruhmu mati atau mengharapkan kau mati, tapi aku ingin kau berpikir sungguh-sungguh tentang hidupmu. aku ingin kau berpikir tentang hal yang paling penting dalam hidupmu, yaitu keberadaanmu, kehidupanmu, arti hidupmu. akan menambah apa kau dalam kehidupan di dunia ini? untuk apa kau ada? apa bedanya dunia antara kau ada atau tidak ada?

kita pernah membahas hal ini. jika kau tidak ada, matahari tetap bersinar. bumi tetap berputar. tumbuh-tumbuhan tetap hidup, berfotosintesis, menghasilkan oksigen. binatang-binatang tetap bergerak dalam kehidupan. orang-orang tetap menjalani hidup sehari-hari. bahkan dalam pandangan bintang-bintang, galaksi dan alam semesta, usia keberadaanmu nyaris tidak ada artinya. artinya kamu tidak ada artinya. dunia tidak berjalan mengelilingimu. dunia tidak membutuhkanmu.

jadi kenapa kamu masih ada? kenapa tidak mati saja?" tanya gadis itu. dia makin sadis. pedas sekali kata-katanya.

"tidak." jawabku tegas.

"kenapa?"

"karena aku yakin bunuh diri itu haram. kalau aku bunuh diri, aku akan masuk neraka. aku akan disiksa dengan cara disuruh bunuh diri dengan cara yang sama seperti yang kulakukan di dunia. berulang kali, hingga ribuan bahkan jutaan kali. siksaan itu lebih menyakitkan daripada hanya mati sekali."

"oke. bagus. jadi kamu mati segan hidup tak mau? kamu cuma menunggu ajal?"

"aku cuma ingin selamat dari neraka dan ingin masuk surga."

"itu saja yang membuatmu bertahan? kamu cuma menunggu ajal? itu buang-buang waktu saja!"

"nggak cuma itu. aku sudah punya rencana."

"oh, ya? apa itu?" gadis itu mulai penasaran.

"yang terakhir adalah menggapai ridlo Tuhan. sebelum itu masuk surga-Nya. untuk itu harus mati husnul khotimah, mati dengan cara yang baik. kemudian memiliki keluarga yang harmonis, tenang, saling mencintai dan diberkahi. untuk itu aku harus mencari calon istri yang baik. aku sendiri juga harus menjadi pribadi yang baik. aku harus menjadi seorang pria yang tangguh, pria yang kuat, terhormat, baik dan setia."

"jadi pria yang baik, ya?" gadis itu manggut-manggut.

"bagaimana kalau malaikat kematian datang sebelum rencanamu berhasil? bagaimana kalau kamu gagal? apakah kamu sudah siap?"

"kalau sudah datang waktuku, maka aku akan senang sekali. berarti ujianku sudah selesai. aku bisa melihat hasil kehidupanku. aku tak perlu mendapat tuntutan ibadah lagi. aku tak perlu menghadapi masalah kehidupan, musibah, cobaan dan apapun lagi.

aku tak mengharapkan keabadian karena aku yakin keabadian itu tidak baik di dunia ini karena dunia ini penuh masalah. makin panjang umur, makin banyak masalah. akan banyak orang yang memburuku untuk mencari tahu rahasia hidup abadiku. mereka akan membedah mengoperasiku. aku juga tak bisa hidup normal kalau hidup abadi. orang-orang yang aku cintai akan mati terlebih dahulu meninggalkan aku."

"bohong! kau tak tahu rasanya keabadian!" ujarnya ketus.

"aku pun tak mengharap umur panjang. jika umurku panjang sampai tua, yang aku tahu aku akan mendapatkan banyak penyakit seperti stroke, darah tinggi, diabet, kanker, osteoporosis, alzheimer, parkinson dll. jadi aku ingin hidup selagi muda. lalu meninggal tanpa rasa sakit."

"apa kamu serius?" tanyanya terkejut.

"ya." jawabku mantap.

"so sad!" dia menangis. air matanya menetes. dia mengusapnya dengan sapu tangan putih dari saku celana pendek tiga perempat warna cokelatnya.

"setidaknya berusahalah menghargai hidupmu! berusahalah! inginkanlah hidup umur panjang!" serunya.

"untuk apa? seperti katamu tadi. hidupku tidak mengubah dunia. dunia tidak membutuhkanku. dunia bisa berjalan tanpa aku. jadi aku tidak ada artinya.

Tapi Tuhan telah menciptakan aku dan mendatangkan aku. Maka dengan pengetahuan dan kebijaksanaan Tuhan yang aku tahu, aku yakin Tuhan tidak membuatku dengan sia-sia. Tuhan pasti punya tujuan untukku. tidak ada yang kebetulan di dunia ini.

di waktu yang sangat sebentar dan sementara di dunia yang teramat luas ini aku begitu kecil dan tidak ada artinya. maka yang aku bisa lakukan adalah berusaha membuat diriku sendiri berarti bagi dunia ini. aku ingin melakukan perubahan yang lebih baik. aku ingin melakukan hal yang bermanfaat. aku ingin melakukan kebaikan. bagi diriku sendiri, orang-orang di sekitarku, keluargaku, masyarakat sekitarku, negara dan bangsaku, bagi dunia, alam semesta dan terakhir, bagi Tuhan. kenapa Tuhan yang terakhir? karena Tuhan adalah yang terbesar. aku menyusunnya dari yang terkecil hingga ke yang terbesar." jawabku.

"selamat! kamu sudah lulus! dengan begini kamu bisa bangkit dan menjalani hidup. dengan begini aku tidak perlu mengkhawatirkanmu. kamu bisa menjalani hidup tanpa bergantung pada bantuanku. sekarang aku bisa pergi dengan tenang. pertahankan semangatmu! ingatlah selalu pikiranmu itu! itu yang akan membuatmu bertahan melewati ujian kehidupan dan gelombang kehidupan yang keras menghempas. sayonara ..."

gadis itu menghablur. tubuhnya retak mulai dari kaki. kakinya pecah seperti kaca, berkeping-keping. setiap keping semakin kecil, menguap, menghilang ditelan udara. dari kaki, lutut, hingga ke celana, kaosnya hingga wajahnya. wajahnya tetap tersenyum walau berurai air mata.

"kimi....!" ku berusaha menjangkaunya. berusaha menyentuhnya untuk terakhir kalinya. merasakan wajahnya, menghapus air matanya, namun sebelum pipi itu terasa dia sudah menghilang.

"kimi ... ! aku takkan melupakanmu! kata-katamu akan selalu kuingat dalam dadaku. namamu akan kuukir dalam hatiku." Aku menangisi kepergiannya yang begitu mendadak. kuusap air mataku. akan kukenang dia selalu. sekarang saatnya melangkah maju

Tidak ada komentar:

Posting Komentar