idul fitri sudah berlalu sebulan lalu. nggak apa-apa. suasananya masih terasa. mungkin sudah terlupa karena sibuk dengan kehidupan yang normal sebagai orang dewasa, yaitu kerja dan mengurus rumah. juga ada kesibukan hobi dan yang lain.
idul fitri tahun ini jadi terasa berubah dan berbeda karena ada corona. yang tadinya bisa silaturahmi jadi di di rumah terus. yang bisa ketemu saudara banyak jadi hanya ketemu keluarga. jadi gak bisa ke rumah teman-teman. jadi makan cemilan sendiri. :D
aku jadi ingat masa kecil dulu. waktu anak-anak, aku dan teman-temanku dengan berani bisa mendatangi rumah-rumah tetangga. kami makan jajan, bercanda dan dapat uang saku. kami waktu dulu bisa mengunjungi banyak rumah tanpa rasa takut. kami dapat uang lalu uang itu kami belikan mainan. aku masih ingat aku pernah beli mainan laba-laba. aku pakai bermain dengan saudaraku.
sekarang waktu sudah dewasa aku jadi tidak bisa mengunjungi rumah tetanggaku. bahkan saudara-saudaraku saja aku tidak berani. kenapa?
karena aku masih merasa malu. aku belum berhasil secara ekonomi dan sosial. aku tidak bekerja di tempat yang wah. penghasilanku tidak besar. aku tinggal dan kerja di kotaku sendiri. aku juga masih masih sendiri. belum menikah, apalagi punya anak. sedangkan teman-teman dan tetanggaku sudah. aku sendiri yang memang memilih belum menikah. aku belum berusaha mencari pasangan.
itu adalah pilihanku. aku belum punya bekal menikah. aku belum punya harta untuk biaya nikah. penghasilanku hanya cukup untuk diriku sendiri. belum bisa untuk menafkahi istriku.
saat orang-orang bertanya kepadaku," kenapa belum menikah?"
"saya masih bekerja dulu."
terus mereka bilang. nanti bisa cari uang dulu. aku jawab melanjutkan. mereka lalu jadi mengusik kehidupan pribadiku. mereka memberikan saran untuk mengurangi pengeluaranku, agar aku bisa menabung untuk biaya nikah. aku tahu niat mereka baik, tapi saran mereka itu kedengarannya bagiku sama seperti menyalahkan pola dan gaya hidupku, padahal aku sudah mengatur pola hidupku agar aku bisa bekerja dengan serius, irit tapi juga tak melupakan kesenangan hidupku. sebab aku hidup tidak mau selalu serius serius. kalau terlalu serius aku bisa stress. aku juga membutuhkan hiburan dan santai. jadi aku tinggal di kos di kota biar bisa ke warnet, update status di hp dengan didukung sinyal internet, dekat dengan pespustakaan, dekat dengan teman-teman. jadi kalau ada apa-apa cepat sampai. aku juga berusaha sirit mungkin sebisaku. jalanan di kota lebih baik daripada di desa sebab di desa jalan-jalannya banyak yang rusak. aspalnya berlubang-lubang. nanti kendaraanku bisa rusak. butuh biaya lagi. ada yang menyuruh untuk beli perlengkapan masak biar bisa masaka sendiri, jadi biar irit biaya makan. tapi menurutku harganya mahal. aku cuma ingin menabung biaya menikah aja. soal perlengkapan rumah tangga itu nanti setelah nikah aja.
tak hanya itu, aku juga malu sama tetangga karena aku yakin aku telah berbuat buruk pada tetanggaku. aku tidak menyapa mereka, bergaul atau berbicara dengan mereka. aku sangat malu bertemu sama orang. saat bersama mereka aku tidak tahu mau ngomong apa. aku jadi tidak betah. aku yakin mereka juga tidak betah diam terus. aku jadi ingin pergi saja menjauhi mereka, tapi aku malu untuk mengatakannya. kalau diam saja langsung pergi malah kayak tidak sopan. diam saja juga tidak baik. aku jadi bingung sendiri.
jangankan itu, nama tetanggaku saja aku tidak tahu. makanya saat ditanya orang,"anda dari mana?"
"saya dari A." jawabku menyebutkan tempat asalku.
"kenal Bapak X nggak? atau ibu Y?" tanya orang itu lagi.
saat itu aku jadi kebingungan. karena itu aku tidak mau dan tidak berani ketemu sama orang asing. aku lebih baik menyendiri saja. termasuk waktu idul fitri, aku merasa lebih baik aku tidak anjangsana saja. aku lebih baik di rumah saja. termasuk tidak menerima tamu. jadi hikikomori. tahun kemarin aku sudah melakukannya. tahun ini aku ada rencana untuk melakukannya lagi. Eh, ada korona. jadi nggak cuma aku yang menyendiri di rumah tapi semua orang juga. masih ada juga sih sedikit orang yang datang ke rumah orang tuaku.
tahun depan, kalau aku sudah menikah, mungkin aku akan mencoba berubah. memberanikan diri bertemu tetangga-tetangga dan saudaraku. kalau ditanya,"sudah nikah belum?"
"sudah." jawabku mantap.
"mana?" tanya mereka.
"ini." jawabku menunjukkan belahan hatiku. Aamiin...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar