Sabtu, 13 Juni 2020

penyesalanku



aku membandingkan kehidupan di anime dengan kehidupanku. aku lulus SMA tahun 2008, di sebuah kota kecil di jawa, Indonesia, bukan jepang. susunan kelasnya berbeda. suasananya, orang-orangnya, pakaiannya, bahasanya budaya berbeda. mungkin saja sama kalau seragam laki-laki adalah celana panjang. yang lain bisa saja berbeda.


masa SD, SMP dan SMA-ku suram. tidak warna-warni . tidak ada kenangan indah yang bisa diceritakan atau diingat. aku waktu SD jadi korban bullying. hampir setiap hari aku dijahili teman-teman dan kakak kelasku. aku sampai harus pindah. setelah itu aku menjauhi teman-temanku.

di SMP aku menjauh dari teman-teman. aku hidup dalam ketakutan. tapi aku menemukan perpustakaan sekolah. aku menemukan berbagai buku menarik di sana. aku jadi suka membaca buku di sana. aku jadi rajin mengunjungi perpustakaan sekolah.

karena kesukaanku membaca, aku jadi suka mengurung diri di perpustakaan sekolah maupun kota. aku jadi suka menyendiri, kuper dan aneh. aku jadi canggung sama orang-orang. keanehan itu terus terbawa sampai sekarang membuatku jadi orang aneh. banyak orang yang menyebutku aneh.

setelah melihat orang lain dan menonton anime, termasuk merenungkan hidupku, aku jadi sadar kalau aku selama ini salah.

seharusnya aku itu:

- berlari mengejar impian dan cita-citaku di masa SMP dan SMA.

- berusaha meraih prestasi sejak dini.

- menjadi pemuda yang berani, antusias dan bersemangat.

- berusaha menjalin persahabatan sebanyak-banyaknya dengan teman-temanku. kami melakukan banyak hal bersama. berusaha membuat kenangan yang indah.

- pernah merasakan jatuh cinta dan merasakan indahnya cinta walau sementara.

- berusaha memperbanyak pengalaman hidup sebagai bekal untuk menghadapi kehidupan dewasa yang gelap dan berat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar